Selasa, 15 Juli 2014

Harga Waktu



Waktu. Tidakkah ia terdengar begitu familiar di telingamu? Abstrak. Aku bahkan sempat mempertanyakan eksistensinya. Seperti, seberapa berharganya waktu sampai-sampai beberapa makhluk homo sapiens, yang biasa kau sebut sebagai manusia, rela melakukan apapun untuk memilikinya? Seberapa tidak berharganya ia sampai-sampai beberapa lainnya menempatkan ia di tepi penopang nafas lantas mengacuhkannya? Ironis.

Waktu. Tidakkah ia terdengar begitu kejam di telingamu? Barbar. Aku bahkan mempertanyakan kekekalannya. Seperti, mengapa waktu kerap kali menyambutmu dalam segala kehangatan selamat datang lalu seketika diganti dengan tatapan sebuah penghabisan yang kian menggelitik? Mengapa waktu membiarkanmu menikmati pucuk keriaannya, sedang di kemudian masa ia menguning? Mati.

Waktu. Tidakkah ia terdengar begitu lancang di telingamu? Brengsek. Aku bahkan mempertanyakan kesepadanannya. Seperti, mengapa membiarkan diri direngkuh peluh selama dua ribu jam demi beberapa jam meresap secangkir tawa? Seberapa banyak apresiasi bisa kau terima dalam kotak yang tak ada isinya? Menggelikan.

Jangan hargai dirimu, sayang, jika kau tidak bisa melakukan itu pada waktu.

Selamat Ulang Tahun, Nadila (reblog)


Teruntuk Nadila Fitri Fauziah Zulfi,
Seseorang yang sangat menggilai kegilaan hidup, pun menggilai isi blog ini
Namun terjebak dalam salah satu kegilaannya tersendiri

Bawah keluruhanmu, saat sadar menjadi terburai

Saat ketidaksadaran menjadi sebongkah ekstasi dan kecanduan
Akan waktu yang terus kau siakan keberadaannya
Bangunlah,
Waktu tidak akan berhenti begitu saja
Dan serta merta menunggumu untuk memperbaiki
Segala keindahan senja yang kau lewatkan dan
Kau habiskan untuk memuja malam yang berdiri melawan
Waktu tidak mencarimu
Waktu juga tidak memberikan dirinya kepadamu
Yang harus kau lakukan hanyalah
Menemukan dirimu didalam cermin waktu

Selamat ulang tahun,

Semoga kebahagiaan dan waktu yang sudah kau sia-siakan
tetap berpihak padamu

Teruntuk Prisca (reblog)


Untuk Prisca Adhistya Dinanti,
seorang yang menggilai lelucon bodoh dan isi blog lama saya (kantongjaket.blogspot.com)

Coba kau lihat sekelilingmu

Lalu coba tutup telingamu barang semenit atau dua menit
Ada bisikan angin yang tidak perlu kau dengar dengan telingamu
Melainkan dengan hati dan debar
Cobalah juga kau tutup matamu
Sekian menit
Pikirkan dunia yang bertumbuh pelan-pelan
Lekat-lekat kau akan menemukan
Waktu yang telah separuh jalan bersamamu
Namun waktu tidak menua
Waktu hanya menunjukkan betapa kau harus
Menguatkan diri dan berteman dengannya
Kemudian kau akan mendapatkan waktu itu
Berdiri disampingmu

Selamat ulang tahun,

Semoga waktu selalu berpihak padamu.

Petrichor






Aku ingin mencintaimu seperti aku mencintai hujan
Seperti rumput merengkuh titik-titik embun
Seperti dedaunan bergoyang rapuh
Di terpa berbasah-basahan air awan

Aku ingin menunggumu seperti aku menunggu hujan

Seperti angin yang berhembus membawa aroma
Seperti matahari yang tak tampak sebelumnya
Bersembunyi diantara abunya langit

Aku ingin menyukaimu seperti aku menyukai hujan

Seperti tanah basah yang menampung
Seperti air tumpah yang melebur jadi satu
Ada, hanya untuk pluviophille yang haus akan petrichor

Lelaki yang Merekam Senja








Hai, lelaki yang merekam senja
Aku tidak akan bertanya 'apa kabarmu' seperti biasanya yang aku lakukan. Terlalu kaku untuk kerumitan isi kepala akan kesendirian dan coretan-coretan tulisan tanganmu itu.

Hatimu baik-baik sajakah? Apakah sudah tidak seberantakan saat terakhir aku melihatmu di bandara? Aku ingat, diantara jus campuran lemon dan mentimun; dan coklat dihadapanku, kau sembunyikan runtuhan-runtuhan yang masih basah lukanya dengan senyum yang sedikit kau paksakan.

Apakah kau masih menulis mimpi? Ataukah kau masih menjahit luka dari kata dari setiap pikiran, lalu kau menerjemahkannya dengan tarian jarimu di tubuh pulpen dan keyboard dingin itu? Atau apakah kau kian menenggelamkan diri di rawa buku yang sanggup membuatmu terseok disetiap binar-binar kalimatnya?

Hai, lelaki yang mencintai senja
Maaf jika aku terlalu banyak bertanya. Aku hanya terlalu terpancing ego obsesi dan terlalu menyukai setiap bait berima luar biasa dari jemarimu itu.
Satu pertanyaan terakhir untukmu,
Jadi, apa kabar hatimu?

Senin, 14 Juli 2014

Surat Untuk Endru

Selamat sore,
Aku lupa kapan kali pertama menjumpai nama fiksimu didalam buku bersampul hitam dengan banyak hiasan itu. Saat itu siang, dan angin sedang sungkan mampir untuk sekedar memberikan sejuk walau hanya sedikit. Aku lupa berapa lama sudah kopi hitam hangat yang menghangatkan buku-buku jariku itu mulai dingin saat aku terpaku dalam nama yang penulismu ciptakan. Kau fiksi, tidak nyata. Membaca suratku pun, aku yakin kau tak bisa. Tapi entah, aku hanya ingin menulis beberapa untuk menyapamu.
Fiksi. Kau terlalu fiksi. Dan aku terlalu nyata. Jika perasaan harus dipaksakan oleh keadaan dimana kita tidak bisa saling menatap, setidaknya kau bisa menjelaskan kepadaku mengapa rasa ini juga terlalu membuntukan logikaku? Aku terlalu tenggelam di semesta bola matamu—yang sebenarnya tidak pernah aku lihat. Tidak akan pernah aku lihat. Aku terlalu terperosok pada kekhilafan-kekhilafan yang kau ciptakan untuk membuat wanita-wanitamu tertunduk mengalah dihadapanmu.
Endru,
Bisakah kau jelaskan mengapa seseorang bisa jatuh kepada seseorang yang fana? Aku rasa aku butuh jawabannya, karena aku harus kembali ke dunia—yang tidak ada kau didalamnya. Bisakah setidaknya aku bertemu dan membaca setiap gerak tubuh dan memasuki setiap isi pikiranmu selain dalam buku itu? Sebut aku gila karena jatuh hati pada sosokmu, Endru. Aku tidak akan peduli.
Selamat sore, Endru.
Semoga aku bisa membacamu lain kali, dan bernostalgia di sudut tertinggi debar hati.